Maafkan Saya Tuhan

Selama hampir satu tahun belakangan ini, saya menjadi seorang pemikir bebas. Apa yang saya pikir semua saya ukur dengan rasionalitas. Saya benar benar menjadi orang yang liberal. Saya Islam, saya solat, tapi saya tidak meyakini Tuhan bisa berbuat banyak dalam kehidupan saya. Saya tidak pernah melakukan yang namanya doa, buat saya usaha tetaplah penentu dari segalanya. Saya hanya mengadopsi konsep ikhtiar tidak dengan tawakal. Saya menyadari, pada saat itu saya adalah orang yang teramat sombong tapi entah mengapa rasanya hati ini begitu keras.

Keluarga saya adalah keluarga yang religius, terutama Ibu saya. Beliau tak henti hentinya selalu menasehatkan saya untuk menegakkan solat dan rajin ke mesjid, tapi apa daya semua itu saya anggap sebagai angin lalu dan lewat begitu saja. Ibadah saya tidak terintegrasi. Saya hanya melakukan sedekah tapi jarang menegakkan solat. Saya suka membantu yang susah tapi saya jarang berpuasa. Saya sadar apa yang saya kerjakan adalah setengah setengah.

Hari demi hari, bulan demi bulan tahun demi tahun saya lewati tanpa ada perubahan. Janji ingin menjadi muslim yang baik hanya sekedar janji di bibir saja. Ucapan selamat, sehat dan lebih baik ketika saya ulang tahun di setiap tahunnya hanya menjadi penggembira sesaat, sama sekali tidak berbekas.

Saat itu hidup saya benar benar monoton. Apa yang saya kerjakan rasanya tidak pernah puas, Tuhan seperti mencabut rasa syukur dalam diri saya. Labilitas inilah yang akhirnya membuat saya menjadi gelisah, saya seperti perahu yang berlayar tanpa arah. Apa yang saya impikan dan saya harapkan selalu kandas tanpa ada hasil yang memuaskan, saat itu saya benar benar pada kondisi yang teramat sulit.

Saya merasa sendiri, orang di sekitar saya tidak ada yang mengerti dengan apa yang saya rasakan. Saya seperti berjalan tanpa haluan, menggerutu dalam kesepian, dan ingin rasanya saya berontak melawan kenyataan. Apa yang saya harapkan tidak pernah terwujud, sekalipun itu baik. Tekanan baik dari luar maupun dalam terus membuat saya risau. Apa yang telah saya targetkan tidak berjalan dengan baik, saya benar benar hampir putus asa. Tuhan benar-benar menguji saya dan saat itu saya deklarasikan bahwa Tuhan tidak adil dalam hidup saya.

Di lain sisi, Tuhan ternyata Maha Pemurah. Ia lebih mendengar setiap rajutan doa yang di lantunkan oleh ibu saya. Ya, doa agar saya menjadi anak yang baik dan soleh. doa yang sama seperti nasehat yang selalu disampaikan kepadaku disetiap harinya. Setiap kali saya bercerita apa yang saya alami baik kepada Ibu ataupun teman teman saya, mereka selalu berkata dengan inti yang sama yaitu “Tuhan akan membantu siapa yang berusaha dan berdoa kepada-Nya”. Kalimat ini yang membuat saya berpikir dan mencoba memulai kehidupan yang lebih baik.

Sejak itu saya berusaha, saya melawan setiap ego. Saya mulai melibatkan Tuhan dalam hidup saya, saya bersimpuh dalam doa, saya berserah pada setiap keputusan yang Tuhan buat. Saya belajar untuk menerima kenyataan, saya yakin ada hikmah di setiap peristiwa dan Subhanllah saat semua saya serahkan kepada Tuhan, kehidupan saya berubah sedikit demi sedikit, jalan hidup saya lebih mudah dan apa yang saya harapkan terwujud.

Terima kasih Tuhan atas campur tanganmu dalam hidupku dan maafkan saya bila telah melupakanMu.

Andi Nurrachman

Hening


Termenung diam tak menentu
Aku tak tahu
Mungkinkah kudapat berlabuh
Di situ…

Kala harapanku kandas
Atau
Mungkin memang aku tak pantas

Aku bisa
Aku mampu
Dan aku tahu itu

Tapi

Kesempatan selalu berlalu
Datang dan pergi tanpa memberi sedikit waktu

Berikan aku ketenangan dalam hening
Tuk hapus keresahan dan kembalikan hati yang bening