Marketing Dalam Sebuah Partai Politik

Menjelang pesta demokrasi 2009, puluhan partai politik (parpol) tampaknya sudah siap untuk pasang kuda-kuda. Berbagai aktifitas seperti acara rakyat, olah raga, musik hingga pembagaian sembako dan kesehatan “berembel-embel” parpol sudah mulai di gelar dibeberapa tempat, pastinya dengan satu tujuan yaitu simpati. Ya, mungkin ini bisa menjadi bagian dari salah salah satu usaha parpol untuk menstimulasi rakyat agar kembali aktif dalam memilih dan tetap percaya kepada partainya dalam pemilu tahun 2009, karena animo masyarakat yang semakin menurun dalam beberapa pemilu sebelumnya bisa menjadi satu parameter bagi parpol dankomisi pemilihan umum (KPU) untuk lebih meningkatkan kerja keras dan kinerjanya. Ada beberapa sebab yang mendasari yang pertama adalah,distribusi kartu yang tidak merata. Kedua, proses pencoblosan yang diasmusikan oleh beberapa pihak membuang banyak waktu, dan yang terkahir adalah sifat skeptis atau ketidak percayaan pada beberapa kandidat. Beberapa sebab inilah yang akhirnya membuat sebagian masyarakat kita menjadi kurang antusias dan apatis didalam proses pelaksanaan pesta demokrasi. Dengan adanya parameter tersebut maka bisa menjadi sinyal bagi parpol-parpol baru maupun lama untuk lebih mengencangkan ikat pinggang dan bekerja lebih ekstra dalam menarik simpati dan memenangkan pemilu 2009.

Bila kita analogikan, strategi untuk memenangkan pemilu hampir sama dengan strategi bagaimana menggaet konsumen baru dan mempertahankannya. Didalam ilmu marketing, produk yang bisa memenuhi kebutuhan dan punyanilai tambah (value added) untuk konsumen, akan lebih mudah menarik dan memenangkan pangsa pasar. Masyarakat kini sudah semakin kritis dansadar, kemasan bukanlah faktor utama untuk menjamin sebuah produk lakudan terjual di masyarakat. Kemasan yang menarik bila tidak didukung dengan kualitas dan servis yang memuaskan hanya akan menjadi boomerang untuk produk tersebut. Biaya yang lebih tinggi dari pendapatan, imagey ang tereduksi di mata masyarakat, dan beralihnya masyarakat ke sebuah produk yang lebih menjanjikan bisa menjadi sebagian contoh kecil.

Analogi diatas mungkin bisa disamakan dengan bagaimana parpol berusaha untuk menggaet dan menarik massa baru sehingga bisa memenangkan pemilu 2009. Visi,misi, janji, kata-kata mutiara dan program kerja adalah bagian dari sebuah kemasan, dan kemasan tersebut sekarang sudah menjadi barang yang murah karena siapa saja bisa membuatnya. Parpol yang hanya sibuk mengemas janji-janji tanpa memberikan kualitas dan servis yang memusakan kepada masyarakat, jangan harap bisa menang dan bertahan hingga 2014.

Masyarakat kita kini sudah semakin kritis dan sadar. Janji-janji, visi misi dan program kerja yang diobral tanpa mengimplementasikannya dalam kenyataan, hanya akan menjadi boomerang untuk parpol tersebut. Ingat! Saat caplon Presiden (capres) dari partai tersebut terpilih, dan dalam kenyataanya tidak konsisten dengan visi misinya, janji-janjinya, serta tidak melaksanakan program kerjanya seperti dengan apa yang telah dijanjikan dalam kampanyenya, maka secara tidak langsung akan menimbulkan krisis kepercayaan yang akhirnya membuat masyarakat kita kurang antusis danapatis didalam pemilu, ketidak-konsistenanan ini jugalah yang secara tidak langsung akan membunuh pesta demokrasi itu sendiri.

Andi Nurrachman

Advertisements

2 Replies to “Marketing Dalam Sebuah Partai Politik”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s